Friday, May 16, 2008

Pahamilah

Malam, aku tak mengenalmu dalam diam
aku mengenalmu melalui kata-kata yang terekam

Karena kata-kata adalah harapan
menjejak masa depan
melewati tapak suram
setemaram layaknya malam

Ku Harap Kau Mengerti

Tataplah langit malam ini
bintang-bintang menyapu mendung
dan bulan separo menggantung
air tak lagi menghunjam
tersapu angin menusuk tajam
ranting-ranting pun terpangkas dari
asa yang jatuh meranggas

Proposal

Ajaklah aku kepada surgamu
di kapal itu
pada laut luas untuk sekeranjang asa berparas
demi detik
demi menit
demi jam
demi hari
demi bulan
dan demi tahun yang panjang
merentang dan menantang datang

Kapan Kita Bertemu

Haruskah kumenunggu hujan pada hari yang cerah
menantikan angin pada kegersangan hari-hari panjang
hanya kepada Tuhanmu
kubermunajat rapat dan erat....

Malam Harimu (4)

Malam ini sungguh sunyi
kata tak lagi menyanyi
di antara bintang-bintang yang menyepi
saat perih menanti
untuk satu harap pasti
di antara rasa yang terpaut
pada sekeping hati

Malam Harimu (3)

Bulan tak lagi malu
untuk menjadikannya purnama bagimu
terang sebenderang asa bagi jiwa-jiwa
yang lapang
akan sekotak doa
takjub mewujud
dihadapan Tuhanmu kubersujud

Malam Harimu (2)

...dan waktu telah beranjak larut
bintang pun tak hanya merajut
semarak berpendaran
berarak mengantar malam pada bilah-bilah mimpi
bersama bulir-bulir doa pada Tuhanmu

Malam Harimu

Apakah malam-malammu selalu penuh bintang?
Mendung tak menggantung,
pada sebuah siang terkatung-katung
untuk satu asa yang mematung
akan hari keberuntungan satu hari yang lapang lagi terang

Sunday, June 10, 2007

Kau Dengar Bisikan Itu....

Angin belum juga mewartakan
Tapi aku tak ingin kabar itu menjadi halaman depan hatiku
Pada batin yang gersang
Tiap kali merintih
Hanyalah kedukaan
yang seharusnya usang

Monday, April 30, 2007

Dia adalah Tabir (T)

Tabir di antara kita adalah waktu yang terkuak nyata pada epos yang tersurat ketika kesabaran menaklukan keinginan dan nafsu yang membuncah pada bulir-bulir doa yang terpanjat saat Tuhan-mu kebetulan sedang bermurah hati.

Memutar Waktu

Kita hanyalah kumpulan masa lalu yang terserak. Kita juga hanyalah sisa-sisa dari masa depan yang terbentang tanpa tahu mengarah ke mana. Gelap selain bersandar ke tempat sebaik-baiknya bersandar. Tuhan ku-sebut namamu dengan tanpa daya akan kekuasaan-Mu.

Ketika kabar dari jagad maya tersirat, kegelisahan begitu terasa. Kau --tapi bukan Tuhan, sedang senang berubah. Mungkin aku sedikit sok tahu, tapi semoga ekspresimu bukanlah keinginan untuk melarikan diri dari apapun yang mengejarmu.  Apa ini mengenai kejenuhan atas penantian panjang yang seharusnya tidak pernah terjadi di antara kita ketika angan berbicara pada kanvas imaji yang begitu luas?

Sungguh, jejakmu benar-benar tidak lekang ditempa cuaca. Aku ingin memutar jarum waktu yang mungkin tidak memiliki hasrat lagi. Tapi kali ini atas nama-Mu, Tuhan. Tuhan jua yang menentukan.  Semoga Kau bermurah hati.......

Friday, February 16, 2007

Untuk Sayap Malaikat

-terantuk T

Ku ingin mengirimu sekeranjang coklat
seladang bunga mawar sehabis panen
Untuk suatu semi yang tak pernah mekar
pada kuncup yang layu atas asa yang hidup

Pada guliran detik, menit, jam, hari, pekan, bulan,
dan berujung pada tahun yang panjang
Tanpa air mata, serta aliran nafas yang tercekat
untuk satu jawaban yang telah mengepakan sayapnya

Thursday, January 11, 2007

Diam

Hanya satu yang pantas
diucapkan saat ini
Bangsat!
Semua adalah bangsat!
Termasuk mereka yang mengaku
berhati nurani

Saturday, January 06, 2007

harapan

hidup tapi dalam kematian
bernafas dalam kegelapan yang pekat
menunggu matahari adalah sia-sia
entah sampai kapan
dan mati pun membungkus hidup

Monday, January 01, 2007

Semburat

gelap hanya membuat kalap
penantian menjadi gelombang
akan putus asa tiada ujung
tanpa pernah tahu kapan semburat datang

untuk merindukan sekeping senyum
yang tak pernah hadir
pada rentang yang panjang
mengiris bongkah yang harusnya sudah merekah