Thursday, May 18, 2006

Mutung

Haruskah hujaman takdir
kurayakan pada kemerlip lampul-lampu disko
yang berklakson riuh?

Toh, takdir tak bermata
dia bisa jatuh di mana pun
dan sekehendak hatinya

Sunday, May 14, 2006

Kabar Untukmu

Tembang-tembang kesunyian
menjadi pisau tajam
bagi yang mendengarnya

Dan musim belum juga rontok
untuk sekadar berganti

Wednesday, May 10, 2006

Jawabanku Pada Hari Ini

Harusnya pesan pendek itu
kau kirimkan pada nomor yang lain
Bukankah di sana
kau tengah membangun sebuah harapan?

Aku hanyalah puing-puing
Jadi, aku hanya bisa mengatakan
tetaplah untuk terus berusaha
dan selalu ingat akan Tuhan-mu

Percayalah dia pasti akan memberikan inspirasi

Karena dia tak pernah
mengkatung-katungkan nasib hambanya
Dia tidak mengenal standar ganda
dalam memperlakukan permintaan untuknya

Dia juga sangat tidak mungkin berkhianat
apalagi sampai menikam-mu dari belakang
Karena Dia bukan kita

Tuesday, May 09, 2006

Sabtu Malam

Malaikat tak ada lagi
dalam getar-getar
suaramu
yang bening

Sebelumnya
kau adalah Tuhan yang layak dipuja
dengan firman-firman
sucinya

Raut wajah, kata-kata, dan tawamu begitu terasa gerah
padahal kau tidak tengah berselimut api yang
kerapkali membuatku terbakar
karena setan telah menunggang di atas kepalaku

Apakah kita telah sama-sama
menjadi manusia biasa malam itu
ketika pada akhirnya kedok kita harus dibuka
untuk menyatakan kabar sebenarnya?

Wasting Time

Kenyataan akhirnya naik ke panggung
Dia menjadi bintang ketika kau tak sanggup lagi
untuk sekadar menutup-nutupi
bahwa kau punya sisi lemah
seperti halnya hamba yang lain

tanpa harus mengorbankan
yang sangat jauh maknanya jika harus
disandingkan dengan pengorbanan
yang terasa lebih suci dan jauh dari kesan munafik!

Bayanganku Atas Kita

Kecamuk itu masih mengamuk
Dengan mimpi-mimpi buruk
Di saat pemujaan atas diri-Mu
yang begitu menusuk tulang
Dan di saat aku mulai merunduk

Bahwa aku telah ditikam
begitu terhunjam-hunjam
Bahwa aku telah berubah menjadi keset
bagi kaki yang sebelumnya peragu
tapi kini sanggup berlari kencang

padahal dia sebelumnya terperangkap
dalam peristiwa yang telah mengecilkan
hatinya begitu dalam dengan
meninggalkan warisan lukanya
kepadaku

Pertemuan Kita

Aku datang kepadamu
sebagai seorang orang tua yang
baru saja menerima tangis bayi
dari rahimmu

Begitu banyak rasa syukur
yang termuntahkan dan membuat
siapapun yang mendengarnya tersentuh
Dia pun tak jijik saat namanya terus kusambat tanpa jemu

Aku tahu kau teramat sangat lelah
Mukamu mengatakan itu begitu utuh
Sejurus, senyummu berkata
Dan tak ada kebahagiaan yang berakhir dengan satu keluhan

Sungguh, itu berlangsung sepanjang musim
dan sungguh pula merindukan
Ketika setiap pertemuan kita selalu berakhir
dengan tumbuhnya harapan-harapan baru

Waktu pun bergulir
Sayang, dia tak hanya sekadar teman baik
tapi sanggup pula melakukan sebuah pengkhianatan
Secepat gerak lajunya, tak terduga-duga tanpa bisa diulang kembali

Kita pun tersadar
dengan darah yang asam dan hati yang teriris bilah bambu
bahwa kita sebenarnya tak pernah saling membuahi
Padahal kita sudah terbenam terlalu dalam

Satu Tahun Kita

Ketika Tuhan-mu menikam
dari belakang dengan belatinya yang berkilau-kilapan
Dia menciptakan hati
untuk manusia

Adakah luka itu
sembuh setakjub sihir di masa lampau
apakah itu pasrah
apakah ini kepasrahan itu

Dan tikaman Tuhan-mu kembali menghunjam

Seperti gunung tinggi, dengan kabut-kabut langit
matahari pun tak mampu merayap
lembab, dingin, dan mengigil
itulah yang berlangsung sepanjang musim, saudaraku

Oh ya, kau, kau sendiri bagaimana?
Kabarmu secerah lampu disko?
Seindah sunset di pantai-pantai?
Ataukah semabuk pasangan kasmaran....

Aku hanya bisa berdoa, Tuhan-ku tetap melindungimu

Dan tikaman Tuhan-mu tetap menghunjam

03 Mei 2006