Mutung
Haruskah hujaman takdir
kurayakan pada kemerlip lampul-lampu disko
yang berklakson riuh?
Toh, takdir tak bermata
dia bisa jatuh di mana pun
dan sekehendak hatinya
ketika harus berani dalam ketakutan jiwa-jiwa terkekang jiwa-jiwa hampa jiwa-jiwa teraniaya
Haruskah hujaman takdir
Tembang-tembang kesunyian
Harusnya pesan pendek itu
Malaikat tak ada lagi
dalam getar-getar
suaramu
yang bening
Sebelumnya
kau adalah Tuhan yang layak dipuja
dengan firman-firman
sucinya
Raut wajah, kata-kata, dan tawamu begitu terasa gerah
padahal kau tidak tengah berselimut api yang
kerapkali membuatku terbakar
karena setan telah menunggang di atas kepalaku
Apakah kita telah sama-sama
menjadi manusia biasa malam itu
ketika pada akhirnya kedok kita harus dibuka
untuk menyatakan kabar sebenarnya?
Kenyataan akhirnya naik ke panggung
Dia menjadi bintang ketika kau tak sanggup lagi
untuk sekadar menutup-nutupi
bahwa kau punya sisi lemah
seperti halnya hamba yang lain
tanpa harus mengorbankan
yang sangat jauh maknanya jika harus
disandingkan dengan pengorbanan
yang terasa lebih suci dan jauh dari kesan munafik!
Kecamuk itu masih mengamuk
Bahwa aku telah ditikam
begitu terhunjam-hunjam
Bahwa aku telah berubah menjadi keset
bagi kaki yang sebelumnya peragu
tapi kini sanggup berlari kencang
padahal dia sebelumnya terperangkap
dalam peristiwa yang telah mengecilkan
hatinya begitu dalam dengan
meninggalkan warisan lukanya
kepadaku
Aku datang kepadamu
Begitu banyak rasa syukur
yang termuntahkan dan membuat
siapapun yang mendengarnya tersentuh
Dia pun tak jijik saat namanya terus kusambat tanpa jemu
Aku tahu kau teramat sangat lelah
Mukamu mengatakan itu begitu utuh
Sejurus, senyummu berkata
Dan tak ada kebahagiaan yang berakhir dengan satu keluhan
Sungguh, itu berlangsung sepanjang musim
dan sungguh pula merindukan
Ketika setiap pertemuan kita selalu berakhir
dengan tumbuhnya harapan-harapan baru
Waktu pun bergulir
Sayang, dia tak hanya sekadar teman baik
tapi sanggup pula melakukan sebuah pengkhianatan
Secepat gerak lajunya, tak terduga-duga tanpa bisa diulang kembali
Kita pun tersadar
dengan darah yang asam dan hati yang teriris bilah bambu
bahwa kita sebenarnya tak pernah saling membuahi
Padahal kita sudah terbenam terlalu dalam
Ketika Tuhan-mu menikam
Adakah luka itu
sembuh setakjub sihir di masa lampau
apakah itu pasrah
apakah ini kepasrahan itu
Dan tikaman Tuhan-mu kembali menghunjam
Seperti gunung tinggi, dengan kabut-kabut langit
matahari pun tak mampu merayap
lembab, dingin, dan mengigil
itulah yang berlangsung sepanjang musim, saudaraku
Oh ya, kau, kau sendiri bagaimana?
Kabarmu secerah lampu disko?
Seindah sunset di pantai-pantai?
Ataukah semabuk pasangan kasmaran....
Aku hanya bisa berdoa, Tuhan-ku tetap melindungimu
Dan tikaman Tuhan-mu tetap menghunjam
03 Mei 2006