Pertemuan Kita
Aku datang kepadamu
sebagai seorang orang tua yang
baru saja menerima tangis bayi
dari rahimmu
Begitu banyak rasa syukur
yang termuntahkan dan membuat
siapapun yang mendengarnya tersentuh
Dia pun tak jijik saat namanya terus kusambat tanpa jemu
Aku tahu kau teramat sangat lelah
Mukamu mengatakan itu begitu utuh
Sejurus, senyummu berkata
Dan tak ada kebahagiaan yang berakhir dengan satu keluhan
Sungguh, itu berlangsung sepanjang musim
dan sungguh pula merindukan
Ketika setiap pertemuan kita selalu berakhir
dengan tumbuhnya harapan-harapan baru
Waktu pun bergulir
Sayang, dia tak hanya sekadar teman baik
tapi sanggup pula melakukan sebuah pengkhianatan
Secepat gerak lajunya, tak terduga-duga tanpa bisa diulang kembali
Kita pun tersadar
dengan darah yang asam dan hati yang teriris bilah bambu
bahwa kita sebenarnya tak pernah saling membuahi
Padahal kita sudah terbenam terlalu dalam

0 Comments:
Post a Comment
<< Home